Upacara Kasada adalah salah satu ritual adat paling terkenal di Jawa Timur. Setiap tahun, masyarakat Suku Tengger berkumpul di kawasan Gunung Bromo untuk melaksanakan Yadnya Kasada, rangkaian persembahan yang dipanjatkan sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada leluhur serta Sang Hyang Widhi.
Ritual ini bukan pertunjukan, melainkan ibadah yang sakral bagi pelakunya. Karena itu, wisatawan yang ingin menyaksikannya perlu datang dengan sikap hormat. Artikel ini membahas siapa orang Tengger, legenda di balik upacara, gambaran prosesi, dan etika menonton yang patut dijaga.
Masyarakat Tengger
Suku Tengger tinggal di desa-desa di lereng pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Mereka dikenal memegang teguh tradisi dan sebagian besar menganut agama Hindu dengan corak adat yang khas. Hidup di dataran tinggi yang dingin, masyarakat Tengger banyak bertani sayuran dan menjaga hubungan erat dengan alam sekitar.
Nama Tengger sendiri sering dikaitkan dengan legenda pasangan Roro Anteng dan Joko Seger. Hingga kini, masyarakat Tengger mempertahankan nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap lingkungan yang tercermin dalam upacara-upacara adatnya.
Tengger hidup berdampingan dengan kawasan konservasi, sehingga aturan adat dan aturan taman nasional sering berjalan beriringan. Wisatawan diharapkan memahami bahwa kawasan itu bukan sekadar pemandangan, tetapi rumah dan tempat suci bagi warganya. Menghargai hal ini adalah dasar dari semua sikap yang baik di sana.
Legenda Roro Anteng dan Joko Seger
Menurut cerita yang dituturkan turun-temurun, Roro Anteng dan Joko Seger adalah pasangan yang memerintah wilayah Tengger. Lama menikah, mereka belum dikaruniai anak, lalu bersemadi memohon keturunan di Gunung Bromo.
Permohonan itu dikabulkan dengan syarat: anak bungsu mereka kelak harus dipersembahkan ke kawah. Pasangan ini memiliki banyak anak, dan ketika tiba saatnya, cerita menyebutkan bahwa putra bungsu mereka, Kesuma, bersedia mengorbankan diri demi keselamatan masyarakat. Ia berpesan agar keluarga dan warga mengadakan persembahan setiap tahun.
Itulah yang dipercaya menjadi asal-usul Kasada. Seperti kebanyakan legenda, ada beberapa versi cerita, dan sebaiknya dipandang sebagai warisan tutur yang bermakna bagi masyarakat setempat.
Kisah ini menjelaskan mengapa persembahan dilarung ke kawah, dan mengapa Bromo dipandang sebagai gunung suci. Bagi masyarakat Tengger, legenda tersebut bukan dongeng semata, melainkan landasan nilai tentang pengorbanan, syukur, dan hubungan manusia dengan alam.
Prosesi Yadnya Kasada
Yadnya Kasada berlangsung pada bulan Kasada dalam penanggalan Tengger, sehingga tanggal masehinya berubah setiap tahun. Karena itu, jangan mengandalkan tanggal dari tahun sebelumnya. Cek informasi resmi dari pengelola kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan pemerintah daerah setempat.
Secara umum, rangkaian upacara melibatkan pemuka adat, pemangku, dan warga yang membawa hasil bumi serta ternak sebagai persembahan. Dalam tradisi ini, persembahan tersebut dilarung ke kawah Bromo sebagai simbol syukur dan permohonan keselamatan. Doa-doa dipanjatkan, dan masyarakat menyiapkan diri sejak sebelum fajar.
Beberapa elemen yang lazim dalam prosesi ini antara lain:
Perlu diingat bahwa rincian prosesi dapat berbeda dari tahun ke tahun dan diatur oleh pemuka adat. Karena itu, informasi yang Anda temukan di tempat lain mungkin tidak sepenuhnya sama. Bila ingin memahami maknanya secara mendalam, dengarkan penjelasan langsung dari warga atau pemuka adat dengan sikap rendah hati.
- Persiapan sesaji dan hasil bumi oleh warga desa.
- Pelantikan atau peran pemuka adat dalam rangkaian doa.
- Perjalanan beriringan menuju kawasan Bromo.
- Pelarungan persembahan ke kawah sebagai puncak ritual.
Etika bagi wisatawan
Menyaksikan Kasada adalah kesempatan langka, tetapi kehadiran wisatawan tidak boleh mengganggu kekhusyukan. Kawasan juga bisa sangat ramai, dingin, dan berdebu, sehingga persiapan fisik dan sikap sangat menentukan.
Selain itu, perhatikan keselamatan. Tepi kawah berbahaya dan status aktivitas gunung dapat berubah. Ikuti selalu arahan petugas serta informasi resmi dari PVMBG melalui MAGMA Indonesia dan pengelola taman nasional.
Sebelum berangkat, sebaiknya tentukan dulu bagaimana Anda tiba dan pulang, karena kepadatan kendaraan pada hari upacara bisa membuat akses sulit. Bawa masker atau penutup wajah untuk melindungi dari debu, dan siapkan senter bila datang sebelum fajar.
- Berpakaian sopan dan hangat; suhu di kawasan Bromo bisa sangat rendah.
- Jangan masuk ke area upacara atau mendekati pemuka adat tanpa izin.
- Minta izin sebelum memotret warga, terutama saat berdoa, dan jangan memakai lampu kilat berlebihan.
- Jangan menyentuh atau mengambil sesaji.
- Hindari drone kecuali ada izin resmi dari pengelola kawasan.
- Bawa pulang sampah Anda dan jangan menginjak vegetasi.
- Patuhi batas pagar dan arahan petugas di tepi kawah.
Pertanyaan yang sering diajukan
Kapan Upacara Kasada diadakan?
Tanggalnya mengikuti kalender adat Tengger sehingga berubah setiap tahun. Pastikan jadwal dan aturan kunjungan melalui pengelola taman nasional dan pemerintah daerah.
Bolehkah wisatawan ikut menyaksikan?
Umumnya masyarakat terbuka, tetapi wisatawan diminta menjaga sikap dan mengikuti aturan setempat. Ini upacara keagamaan, bukan pertunjukan.
Apakah aman mendekati kawah?
Tepi kawah berisiko, apalagi saat ramai dan berkabut. Patuhi petugas dan cek status aktivitas gunung dari sumber resmi.
Upacara Kasada menunjukkan bagaimana sebuah komunitas menjaga hubungan dengan alam, leluhur, dan sesama lewat tradisi yang hidup. Menyaksikannya dengan rendah hati adalah cara terbaik menghargai warisan itu.
Baca juga ulasan budaya lainnya di kategori Budaya dan Sejarah kami.



